Bagaimana dengan Susu Kedele ?

Lupakan susu kedele. Sudah berulang kali dr. Tan Shot Yen mengulas tentang 'penemuan budaya asing' ini. Bangsa kita tidak mengenal susu di atas usia 2 tahun, apalagi menjadikan kedele sebagai susu.


sumber image : http://www.fitday.com/fitness-articles/nutrition/healthy-eating/6-health-benefits-of-soy-milk.html

Kedele adalah kacang, yang dikenal sebagai 'top allergens' - artinya, masuk 8 besar penyebab alergi. Banyak kasus alergi berat bahkan menyerupai asma yang fatal terjadi pada mereka yang sangat peka dengan kacang. Kedele adalah 'goitrogens', artinya bukan sahabat kelenjar gondok. Kelenjar gondok penting karena menghasilkan hormon metabolisme yang menjaga semua sistem dalam tubuh berjalan sesuai jalurnya. Kandungan lecithin pada kedele menyebabkan peningkatan kekentalan darah dan mempengaruhi reaksi kekebalan tubuh. Oligosakarida (gula rantai panjang) merupakan penyebab rasa kembung dan buang angin lebih sering. Kandungan oksalat yang tinggi malah mengganggu penyerapan kalsium dan ada hubungannya dgn pembentukan batu ginjal dan gangguan pada kelamin wanita yg sangat nyeri. Kedele punya sifat fitat yang buat usus kesulitan menyerap mineral yang dibutuhkan oleh tubuh seperti zinc, zat besi, dan kalsium. Trypsin inhibitor pada kedele menghambat kerja enzim pencernaan manusia sehingga berujung pada berbagai masalah kesulitan mencerna, buruknya penyerapan protein, dan pankreas yang dipaksa kerja keras. Saponin yang 'dijagokan' sebagai penurun kolesterol ternyata mengikat cairan empedu dan dapat membuat turunnya kolesterol baik (HDL) dan kerusakan dinding usus. ini malah menimbulkan masalah karena tubuh tetap membutuhkan kolesterol dan berbagai lemak baik agar produksi berbagai hormon terjaga dan dinding sel tetap utuh.

Isoflavon yang dibangga-banggakan dari kedele adalah sejenis hormon wanita yang berasal dari tumbuhan (phyto-ertrogen) yang bekerja seperti hormon estrogen dan berpengaruh pada organ reproduksi wanita. Isoflavon ditemukan pada kedele yang tidak difermentasikan dalam bentuk glucoside, yang membutuhkan bakteri usus dalam jumlah banyak untuk memecahnya menjadi aglucone. Aglucone (bukan glucoside) inilah yang disebut sebagai persenyawaan anti kanker. Kelebihan hormon perempuan akibat konsumsi kedele yang tidak bijaksana (Karena isoflavonnya masih dalam bentuk glucoside) justru mencetuskan kanker payudara dan organ reproduksi. Masalah phyto-estrogen ini sudah dikenal lama di kalangan masyarakat Jepang kuno. itulah sebabnya penduduk Asia tradisional mengonsumsi kedele dalam jumlah kecil, bukan diproduksi besar-besaran apalagi dimakan sebagai tren. 
Yang sangat menarik, aglucone sudah terbentuk dengan sendirinya pada produk kedele yg telah melalui proses fermentasi, seperti tempe, oncom, tauco, dan miso. Bakteri baik yang ditemukan pada miso dan produk fermentasi kedele lainnya menghajar habis infeksi e. coli dan bakteri staphylococcus aures (penyebab tersering keracunan makanan).

masa iya sih abang ini gak cuci kaki dulu sebelum injekin kedele hehehe...
Sumber image : http://dalyoclique.blogspot.co.id/2013_05_01_archive.html
Karena itulah, saya tidak pernah memasak tempe, apalagi menggorengnya! Saya dan anak-anak memakan tempe dengan cara mentah aja, dilumur garem biar enak, cocol sambel lebih maknyuss. Di mataku, menggoreng tempe adalah tindakan yang sia-sia dan berlebihan. Apalagi memasak tempe dengan cara bacem yang pakai proses goreng si bacem, oh nooo! lengkap sudah..kesia-siaannya. Bukankah sesuatu yang berlebihan adalah tidak baik? Kenapa saya bilang anda tidak boleh menggoreng tempe? Anda bisa mendapatkan jawabannya di tulisan saya yang ini. Trus jika ada yang bertanya, wih kamu gak takut makan tempe mentah? bukankah proses pembuatan tempe itu ada yang dengan cara diinjak-injak dengan kaki? Saya justru lebih takut dengan tindakan menggoreng tempe ketimbang saya harus makan tempe mentah sambil ngebayangin proses injek-injeknya, hehe. Saya lebih takut menghilangkan nutrisi tempe ketimbang harus memikirkan proses pembuatan tempe itu sendiri. Dari yang saya lihat mengenai proses pembuatan tempe di Youtube, memang ada proses injak kedele dengan kaki, akan tetapi yah please positive thinking aja, masa iya sih orangnya yang nginjek itu gak cuci kaki dulu? masa iya orangnya habis main lumpur di selokan trus ujug2 injek-injek kedele? gak mungkin ah.

Selain itu, pada video pembuatan tempe tersebut diperlihatkan bahwa setelah kedele diinjak-injak, kedele masuk ke proses pengukusan, aman donk seharusnya. Toh proses pembuatan tempe kan sudah sewajibnya dilakukan secara higienis. Kenapa? karena kedele itu gak akan jadi tempe jika terkontaminasi patogen dari luar. Kalau abang pembuat tempenya gak cuci kaki dulu, masa iya dia mau menerima kegagalan tempenya bisa-bisa enggak jadi tuuuh. Jadi jika kedele sudah menjadi tempe, yah itu berarti itu sudah bebas patogen. Oh, masih khawatir takutnya si abang pasar menjamah tubuh tempe dengan tangan kotor ya? Ah, saya tetep tuh lebih takut menggoreng tempe (lagi-lagi) daripada memikirkan tu tempe dipegang sama tangan abang-abang pasar hehe...Kan sebelum dimakan saya biasa meleumurkan si tempe dengan air garam biar enak, lagi-lagi positive thinking aja garam dapat mematikan patogen yang mungkin nempel pada permukaan tempe. Jadi, sudah siapkah anda membuang susu kedele di rumah dan mengurangi makan tahu menggantinya dengan lebih sering memakan tempe mentah? you decide :)

Sumber : Buku dr. Tan Shot Yen, M.Hum. Sehat Sejati yang Kodrati. 2012

Comments

Popular Posts